PANGLIMA HITAM
Alkisah,
dulu kerajaan Sri Bung Tanjung meletakkan setiap telu dan tanjung seorang
panglima untuk menjaganya. Panglima tersebut mempunyai tugaas dan kewajiban
yang telah ditetapkan oleh Sultan Sri Bunga Tanjung. Salah satu dari tugas penting
panglima tersebut adalah menjaga kedaulatan wilayah kerajaan-kerajaan Sri Bunga
Tanjung.
Tersebut
kisah di daerah sekarang kita kenal dengan Dumai. Konon mulnya ada seorang
panglima yang diperintahkan oleh Sultan Sri Bunga Tanjung untuk menjaga teluk
yang ada di daerah itu yang sekarang kita kenal dengan teluk makmur. Panglima
yang menjaga daerah itu bergelar Panglima Hitam.
Panglima
Hitam memiliki tubuh yang besar, gagah dan berkulit hitam. Oleh karena itu
barangkali ia digelar Pangkima Hitam. Panglima Hitam memiliki kemampuan bela
diri yang luar biasa. Disamping itu, Panglima Hitam kemampuan bela dirinya itu
sangat terkenal dibandingkan dengan panglima yang lain.
Syahdan,
suatu hari di Sultan Kerajaan Sri Bunga Tanjung mendapat berita bahwa di kawasan
laut wilayah kerajaannya sering terjadi perampokan. Sultanpun memerintahkan
Panglima Hitam untuk membasmi kawanan perampok itu. sebagai panglima yang taat
pada perintah Sultan, Panglima Hitampu siap atas perintah yang diberikan
kepadanya. Panglima Hitam merupakan panglima terbaik kerajaan Sri Bunga Tanjung
yang ditugaskan menjaga teluk di kawasan kerajaan Sri Bunga Tanjung.
Seluruh kekuatan Paanglima Hitam dikerahkan
untuk melawan musuh. Kekuatan musuh juga tidak kalah kuatnya sehingga prajurit
kerajaan Sri Bunga Tanjung menjadi korban. Namun musuh dapat dikalahkan oleh
kerajaan Panglima Hitam.
Setelah
penyerangan melawan para perampok usai dan akhirnya kemenangan diperoleh oleh
kerajaan Sri Bunga Tanjung. Seluruh prajurit yang ikut dalam pertempuran
melawan perampok tadi kembali ketempat mereka masing-masing. Panglima Hitam
kembali dengan rombongannya dalam keadaan terluka tikaman dari tikaman keris
ketua perampok yang sangat parah saat penyerangan terjadi.
Kondisi
Panglima Hitam sangat parah, konon kabarnya keris ketua perampok tadi yang
menikam dada Paanglima Hitam memiliki racun yang dasyat sehingga sangat sulit
untuk diobati. Yang bisa mengobati hanyalah panglima yang mempunyai keris itu
sendiri. Sementara panglima itu sudah mati ditangan Panglima Hitam.
Sultan
Sri Bunga Tanjung sangat kuatir akan hal itu, beliau mengirimkan prajurit
kerajaan Sri Bunga Tanjung untuk menjemput Panglima Hitam.
Panglima
Hitam sendiri walaupun kondisinya semakin parah, kesatrianya sebagai seorang
panglima tidak pernah kendur. Ia tetap berkeras untuk kembali ke tempatnya.
“Wahai prajurit yang gagah berani, bawalah hamba segera ke tempat hamba.” Pinta
Panglima Hitam kepada prajurit yang ikut bersama rombongannya.
Prajurit
yang ikut dengan Panglima Hitam agak terkejut mendengar permintaan Panglima
Hitam tersebut. Mereka tak dapat mencegah keinginan Panglima Hitam. Beliaiu
hanya diam saja. Para prajurit juga sudah membaca gelagat lain yang dalam
peristilahannya disebut buang tebiat.
Tak
lama kemuadian Panglima Hitampun berangkat bersama prajurit menuju tempat
Panglima Hitam. Dalam perjalanan menuju tempat Panglima Hitam kondisi Panglima
Hitam semakin parah. Dalam pada itu,
Panglima Hitampun sempat berpesan kepada prajurit yang membawanya
pulang.
“Wahai
prajurit setia, aku mau berpesan kepada kamu. Jikalau aku mati sebelum kamu
sampai ke darat, maka kuburkan aku di teluk itu dan jangan beritahu sesiapapun
bahwa itu kubur aku. Dan jikalau aku mati setelah kamu sampai didarat,
hantarkan aku di tempat tinggalku, dan kabarkan tetang kematianku kepada
orang-orang di sana” pesan Panglima Hitam kepada prajurit yang mengantarnya
tadi.
“Baiklah
panglima, pesan tuanku akan kami laksanakan.” Jawab prajurit dengan tegasnya.
Tak beberapa lama setelah Panglima Hitam berpesan, Paanglima Hitampun wafat sebelum kapal yang mengatarnya sampai
ke darat. Sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Panglima Hitam, prajurit
menjalankan perintah itu. mereka mengebumikan Panglima Hitam di teluk itu tanpa
memberikan kabar kepada seorangpun yang ada diteluk itu. Namun sesuai pesan,
kubur itu tetap diberikan tanda layaknya kuburan lainnya.
Setelah
selesai pengebumian, prajurit kerajaan Malaka kembali pulang meninggalkan kubur
Panglima Hitam. Keesokan harinya, rakyat yang ada di sekitar teluk itu keheranan
melihat tiba-tiba ada kuburan di teluk itu. Mereka bertanya kubur siapakah gerangannya. Setahu mereka di teluk itu
selama ini tidak pernah ada kubur sesiapapun di sana.
Keberadaan
kuburan itu masih misteri, namun anehnya setiap malam bulan penuh, orang-orang
yang lewat dekat kuburan itu selalu berjumpa seorang yang berdiri dekat kuburan
itu dengan wujud seperti seorang panglima yang gagah, bertubuh tinggi, besar
dan berkulit hitam. Sebagian masyarakat yang tahu akan cerita itu, mereka
mengatakan bahwa itu adalah Panglima Hitam.***




0 comments:
Post a Comment